Cinta Itu Memaafkan

Jika memilih maaf

Daripada dendam

Memilih cinta

Daripada benci

Memilih senyum

Daripada marah

Memilih sabar

Daripada berkeluh

Maka tentramanlah hati

Iklan

To Do: Don’t Worry, Be Happy

Rasa takut dan khawatir dilahirkan dari imajinasi pikiran yang dipengaruhi oleh kondisi keduniawian. Rasa itu bersumber dari craving dan kemelekatan. Sebenarnya, hidup ini seperti gambaran film yang bergerak, segalanya secara terus-menerus bergerak dan berubah. Tidak ada apa pun di dunia yang permanen atau tetap diam.

Pengharapan tentang segala sesuatu yang menyenangkan tampaknya berlalu terlalu cepat. Pemikiran tentang keadaan yang tidak menyenangkan menciptakan kecemasan yang tampaknya enggan beranjak. Perasaan tersebut seperti wajar adanya. Keadaan timbul tenggelam dalam hidup semacam itu mempermainkan manusia seperti boneka yang dimainkan oleh tali pada opera van java. Tetapi pikiran adalah penguasa yang hebat terhadap dirinya sendiri.
Pelatihan pikiran, dengan kata lain dikenal sebagai kebudayaan pikiran, adalah langkah pertama menuju penjinakkan keresahan pikiran. Sang Buddha menjelaskan :

“Dari keserakahan Timbullah kesedihan,
dari keserakahan timbullah ketakutan,
Bagi ia yang sepenuhnya terbebas dari keserakahan,
tidak ada kesedihan, apalagi kekhawatiran.”

Semua kemelekatan akan berakhir dengan kesedihan. Tidak ada air mata ataupun ucapan selamat tinggal yang dapat memutuskan ketidakkekalan kehidupan. Segala yang berwujud tidak tetap adanya. Tua dan muda menderita dalam keberadaan ini. Tidak ada pengecualiannya. Banyak anak remaja yang mengalami penderitaan pada masa pertumbuhan mereka. Dapat dimengerti bahwa remaja tidak berpengalaman dalam membangun hubungan dengan lawan jenis mereka. Mereka mencoba untuk menunjukkan kecantikan dan berusaha menarik perhatian lawan jenis mereka yang pada gilirannya merasa tersanjung karena dijadikan objek seks. Kedua pihak mencoba bukan untuk menjadi diri mereka, tetapi mencoba menjadi seseorang yang mereka anggap dewasa. Mereka takut bahwa jika bersikap seperti apa adanya akan ditertawakan. Tingkah laku semacam ini memungkinkan terjadinya eksploitasi. Ada rasa kekhawatiran terhadap penolakan dan juga penurunan ego.

Pada siapa pun ketakutan itu timbul, ia timbul pada orang yang kosong, bukan pada orang yang bijaksana.” Demikian sabda Sang Buddha.

Ketakutan bukan lain daripada tahapan pikiran. Tahapan pikiran seseorang bergantung pada kontrol dan arahan; penggunaan pikiran yang negatif akan membuahkan ketakutan; penggunaan yang positif akan merealisasikan harapan dan tujuan-tujuan (ideals). Pilihan bergantung pada diri kita sendiri.

Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk menguasai pikirannya. Alam telah memberikan manusia satu kekuasaan penuh terhadap sesuatu yaitu pikiran. Segala sesuatu yang diciptakan manusia bermula dari bentuk pemikiran. Di sinilah kunci untuk membantu memahami prinsip dengan mana ketakutan dapat ditaklukkan.

“Kekhawatiran mengeringkan darah lebih cepat daripada usia.” Ketakutan dan kekhawatiran adalah tanda-tanda alami dari penjagaan diri. Tetapi ketakutan yang terus menerus dan kekhawatiran yang berlanjut adalah musuh bagi tubuh ini. Ketakutan dan kekhawatiran mengacaukan fungsi tubuh yang normal.

Pikiran seseorang mempengaruhi keadaan diri sendiri secara mendasar. Maka kuasailah pikirann Anda. Pikiran mempunyai kekuatan yang sama sebagai obat tetapi juga dapat sebagai racun. Ketika pikiran sedang dalam keadaan keji, ia dapat membunuh makhluk hidup tetapi ketika ia sedang dalam keadaan tenang dan tekun ia dapat bermanfaat bagi orang lain. Ketika pikiran terkonsentrasi pada pemikiran-pemikiran yang baik, dan didukung oleh usaha yang benar dan penuh pengertian, efek yang dihasilkan sangat besar sekali. Pikiran dengan pemikiran yang benar dan murni akan membawa kehidupan yang sehat dan rileks.

Bagaimana cara rileks. Kepaskan pikiran yang membuat gaduh menuju damai. Iya, apapun itu yg penting berdamai dg diri sendiri itu penting. Itu vital agar bisa bahagia, walau sendiri.

Perasaan Bersalah atau Feeling guilty

Aku concern dengan kata-kata “perasaan bersalah” karena kata tersebut menghiasi beberapa paragraf setiap mendengar curhatan langsung atau secara elektronika.

Feeling guilty is a strong emotion, dimana biasanya orang-orang menganggap perasaan bersalah sebagai sesuatu yang negatif, namun memiliki perasaan bersalah belum tentu selalu negatif. Semua harus dilihat dari seberapa besar kadar perasaan bersalah tersebut? Apakah besar sehingga menyebabkan fungsi atau peran diri terganggu, misal pekerjaan jadi terhambat atau mood menurun sehingga selera makan terganggu, ataukah masih dalam batas normal?

Berdamai

Cara menenangkan pikiran dengan menemukan pencerahan dalam diri, banyak ngobrol atau curhat dengan diri sendiri, mentor diri sendiri, seolah diri kita ada 2.

Aku juga sering mengalami keresahan, itu karena masa depan adalah tidak bisa dipastikan. Rasa ingin mengeluh, tapi mau mengadu ke siapa? Pernah, tidak banyak merubah apa-apa, karena gak mungkin orang harus mengerti kecemasan kita. Yang paling paham dengan kita hanya diri sendiri.

Dampak yg kurasakan, jadi lebih hati-hati tiap melangkah dengan banyak pertimbangan. Tapi perlahan kepercayaan diri juga bisa meningkat.

Solusi untuk kosong self esteem

Setiap orang mempunya masalah, ada yang berat, ada yang berujung trauma psikis.

‘Tiap masalah butuh pencerahan. Pencerahan bukan hidup bahagia, tapi hidup mengerti secara bertanggung jawab’

Memaafkan bukan artinya kita

Memaafkan merupakan sebuah mekanisme pelepasan rasa bersalah, rasa tidak nyaman, rasa benci dan marah pada diri sendiri atau orang lain. Perasaan-perasaan negatif tersebut tidak pernah selesai dan selalu membayangi hidup kita. Tanpa kita sadari, kondisi tersebut juga membuat kita dan kebahagiaan menjadi berjarak.

Memaafkan bukan artinya kita menyangkal semua peristiwa tidak menyenangkan yang pernah terjadi pada kita. Memaafkan justru membantu kita menerima dan berpikir lebih baik untuk melanjutkan hidup dengan perasaan yang lebih positif, tentang diri maupun orang lain. Ketika kita pernah disakiti orang lain sampai menimbulkan luka batin tertentu, kita memaafkan dengan tidak menghilangkan konsekuensi yang akan dihadapi orang lain karena tindakannya. Kita memaafkan karena kita fokus akan kesehatan mental kita sendiri.

Di sisi lain, memaafkan mungkin hal yang sulit karena kita memainkan beragam perasaan yang harus diurai satu per satu. Bahkan, kita harus siap dengan kegagalan dalam melakukannya. Hal ini menunjukkan bahwa memaafkan merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu dan upaya. Keadaan diri seseorang tidak akan melemah saat memaafkan, justru memaafkan adalah upaya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap dengan tantangan serupa atau lainnya di masa yang akan datang. Kita juga mungkin tidak akan langsung mendapatkan dampak baiknya, namun memaafkan setidaknya membantu kita mengurai satu per satu simpul rasa negatif yang menumpuk setelah peristiwa-peristiwa traumatis yang menimbulkan luka batin itu terjadi.

Bagaimana Proses Memaafkan Terjadi ?

Memaafkan diri sendiri merupakan hasil dari proses yang dialami seseorang yang mengambil tanggungjawab untuk ambil bagian dalam situasi yang mengakibatkan perasaan sakit hati, kerusakan fisik pada orang lain, menyimpan perasaan negatif tentang orang lain dan menyalahkan diri sendiri.

Memaafkan diri sendiri dicapai kerika individu berhasil mengenali bahwa mereka tidak sempurna dan bisa gagal menciptakan ideal self bagi diri mereka sendiri. Kita akan sampai pada pemikiran bahwa luka batin yang kita alami terjadi karena banyak faktor sehingga tidak perlu menyalahkan salah satunya. Memaafkan diri sendiri merupakan pintu gerbang kita memaafkan orang lain dan lalu melanjutkan hidup dengan perasaan yang lebih positif.

Berikut adalah tahapan dalam memaafkan diri sendiri (Flanagan, 1996) :

1. Mengenali perasaan kita. Biasanya terjadi setelah kita merenungkan peristiwa demi peristiwa yang membangkitkan rasa marah, bersalah, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, depresi, dendam, cemas, menyesal yang semua merupakan akibat dari urusan yang belum selesai. Apa yang betul-betul kita rasakan saat ini? Kenali rasa itu.

2. Tanggung jawab dengan perasaan kita. Membangkitkan kebutuhan untuk memaafkan diri sendiri. Memunculkan empati diri (bukan mengasihani diri) dari pengakuan rasa ketidaksempurnaan. Kita berpikir bahwa kita bukan makhluk yang sempurna yang semua harus serba ideal. Kita mengakui bahwa kita telah menetapkan standar sangat tinggi di atas kemampuan dan kapasitas kita untuk mencapainya.

3. Ekspresi perasaan kita. Melalui dialog dengan diri sendiri. Berkontemplasi dan berefleksi. Berdialog dengan membahas perasaan negatif apa yang sudah terlibat dalam masalah ini dan nanti harus diubah dalam proses memafkan diri sendiri. Dialog ini bisa berfokus pada diri sendiri atau dengan orang lain.

4. Menciptakan kembali citra diri yang baru, lebih positif, mengambil masa lalu sebagai referensi dan berorientasi pada masa depan.

Kapan Membutuhkan Konselor/Terapis?

Pada dasarnya, setiap orang memiliki potensi untuk dapat menyelesaikan masalah sendiri. Apalagi jika supporting system orang tersebut berfungsi dengan baik. Orang terdekat yang mungkin dapat membantu adalah keluarga, teman dekat/sahabat, atau orang-orang lain yang dianggap signifikan dalam hidup seseorang.

Akan tetapi, ada kalanya supporting system kurang berjalan sesuai dengan harapan. Saat kita dalam kondisi yang negatif, tanpa disadari kita mulai menjauh dari orang-orang terdekat. Menarik diri dan menambah rasa negatif dengan menjadi malu, minder, kehilangan kepercayaan diri, merasa diri tidak berharga atau merasa takut ada orang lain yang menyakiti sama dengan yang pernah dialami. Saat itulah kita sulit melihat secara objektif bagaimana sesungguhnya
supporting system itu bekerja untuk diri kita. Mereka mungkin mau membantu, namun dengan kondisi kita yang menarik diri akan sulit dijumpai titik temu. Saat itulah kita membutuhkan batuan dari profesional, baik sebagai konselor ataupun terapis. Profesional dalam hal ini merupakan orang yang netral yang mungkin membuat diri merasa lebih nyaman untuk sharing . Profesional akan membantu untuk mengenali pola-pola yang tidak diharapkan dan mengidentifikasi area-area yang memerlukan perubahan. Kemudian, menavigasi pikiran kita sendiri untuk menemukan akar penyebab luka batin kita. Setelah itu, kita akan dibawa untuk menyusun rencana untuk mendapatkan kembali kesehatan mental dan kebahagiaan melalui kegiatan pemaafan. Kita hanya perlu jujur, terbuka dan percaya sesuai dengan kemampuan dan berpikir positif bahwa professional yang dipilih dapat membantu berjuang mengatasi luka batin yang kita rasakan.

STRONG

When they see you as a strong woman, they think that you do not need anything or anyone, you can bear everything and will overcome whatever happens. That you do not mind being listened to, cared for or pampered.

When they see you as a strong woman, they just look for you to help them carry their crosses. They talk to you and they think you do not need to be heard.

A strong woman is not asked if she is tired, suffering or falling, if she has anxiety or fear. The important thing is that she is always there: a lighthouse in the fog or a rock in the middle of the sea.

The strong woman is not forgiven anything. If she loses control, she becomes weak. If she loses her temper, she becomes hysterical.
When the strong woman disappears a minute, it is immediately noticeable, but when she is there, her presence is usual.

But the strength that is needed every day, to be that kind of woman, does not matter to anyone.
Honor, recognize, respect and thank the strong women in your life, because they also need to be restrained, loved and feel that they can rest.

Dedikasi untuk Dinda Hasna.